Saat "Yang Pertama" Tak Lagi Menjadi Kekuatan

HTC Sense

HTC Sense™ adalah satu dari jutaan karya industri kreatif. Batagor adalah satu dari jutaan karya industri kuliner. Jadi, apa yang membuat saya menaruh nama mereka setara dalam tulisan ini? NASIB.

Pencipta batagor disinyalir adalah seorang pedagang bakso di bilangan Bandung yang tidak ingin baksonya terbuang sia-sia. Tapi dari sekian banyak penggemar batagor, saya yakin kisah ini tak pernah sampai di telinga mereka. Hei, saya bahkan ragu kalian mengetahui bahwa batagor adalah akronim dari "bakso tahu goreng". Hanya Tuhan dan masyarakat lokal yang tahu dimana sang pencipta batagor sekarang.

HTC Sense, seperti yang telah saya katakan, adalah satu keindahan dari jutaan karya industri kreatif, merupakan software suite pelopor antarmuka intuitif ramah jari untuk ponsel pintar sejak zaman Windows Mobile. Penciptanya adalah HTC, sebuah produsen ponsel yang memulai debut sebagai original design manufacturer di tahun 1997. Sebagai produsen ponsel yang bermula sebagai desainer, mereka bertingkah layaknya desainer—menaruh perhatian berlebih pada keindahan rasa dan menjualnya dengan harga tinggi. Sayangnya, pergeseran konsumen pasar ponsel pintar yang dari kalangan eksekutif terbatas menjadi siapapun yang penting punya uang dan pesatnya perkembangan developer amatir haus performa membuat HTC dirasa kemahalan untuk sebuah ponsel pintar bersistem operasi murah. Tragisnya di Indonesia, HTC sering disebut "hape Cina" karena tak familiar dalam benak masyarakat meski aslinya dari Taiwan.

Andai pencipta batagor menuliskan "PENCIPTA BATAGOR" di warungnya, andai HTC mengklaim HTC Sense sebagai pelopor antarmuka intuitif ramah jari untuk ponsel pintar, akankah nasib mereka berubah?

Sepertinya TIDAK.

Masyarakat saat ini memiliki pemahaman bahwa yang pertama belum tentu lebih baik. Mungkin itu berasal dari kejatuhan mereka-mereka yang mengklaim sebagai "Yang Pertama", mungkin itu berasal dari kesadaran untuk mengutamakan kualitas daripada fanatisme belaka, atau mungkin itu berasal dari sesuatu yang sederhana seperti celetuk "yang pertama belum tentu yang terbaik" dari komik roman lokal. Yang jelas, sejarah menjadi "Yang Pertama" sudah tak bisa lagi menjadi ekuitas utama sebuah karya. Tidak salah menjadi "Yang Pertama", hanya saja kini konsumen butuh alasan lebih untuk merongoh kocek mereka. Dan ini berlaku untuk semua karya industri, mulai dari karya industri kuliner hingga karya industri kreatif, mulai dari batagor hingga HTC Sense.

Itu sebabnya batagor kuah hadir. Itu sebabnya HTC Sense sudah mencapai versi keenam dengan BlinkFeed dan Zoe.

Komentar