Ingin Berkata Kasar Soal Privilege

Silver Spoon

Tiba-tiba kepikiran soal privilege.

Pas lagi berdebat soal kerja, banyak generasi belakang meniadakan soal privilege dengan dalih kerja keras bisa menjembatani perbedaan modal sejak lahir. Padahal, perbedaan modal ini tidak hanya berpengaruh ke harta, tapi juga ke pola pikir, cara bertahan hidup, dan keberanian mengambil resiko.

Ambil contoh dua orang, si A dari kalangan tercukupi dan si B dari kalangan susah, lalu diberi duit 100 juta. Si A bakal lebih enteng memutar duit ini untuk usaha. Kalau maju ya asik, kalau bangkrut ya sayang sih, tapi setidaknya masih bisa numpang hidup dan minta makan ke saudara dan handai taulan. Si B... boro-boro. Dalam hidupnya belum tentu ia mendapatkan uang itu dua kali. Hidup sudah susah, saudara sama-sama susah, mending buat sesuatu yang bisa memberi stabilitas kayak tanah atau rumah di kampung.

Kalau dibilang si B bego "yah gimana mo nanjak ke kelas yang lebih tinggi orangnya males gitu", mungkin dicek lagi privilege-nya, kehidupan ga seindah ceramahan MLM. Tapi meski kita sama-sama pernah menginap di mesjid karena diusir dari kosan pun, hidup belum tentu sama bagi kita. Karena bagimu itu mungkin sementara saja 'bokap belum gajian nih" sedangkan aku... yah... setelah bobo di mesjid pindah ke saung kampus. Untungnya masih punya privilege berupa teman kampus yang berkecukupan, karena ada yang menginap di mesjid karena nggak punya apa dan siapa.

Sepertinya sudah harus minum obat.

Komentar