Memberi Pancing Lebih Baik Daripada Memberi Ikan

Pancing

Aku tahu bahwa aku, dan keluargaku, memandang perempuan dengan nilai yang berbeda. Tak dinyana, mereka betul-betul hanya ingin anak bernama Kartini, bukan anak yang berpikiran seperti Kartini. Pertengkaran membuatku dilarang menginjakkan kaki di rumah mereka sejak dua tahun yang lalu. Beruntunglah aku punya modal pendidikan dan handai tolan super pengertian. Kini aku bisa "memancing sendiri", makan setiap hari, dan punya deposito.

Tapi kenapa harus beruntung untuk sekedar hidup? Kenapa perempuan dicekoki bualan bahwa untuk makan, kami harus menunggu lelaki memancingkan ikan? Penatlah aku melihat berita gadis belia kabur karena tak ingin dinikahkan, atau janda cantik ceraikan suaminya yang tak becus, kemudian komentarnya tak jauh-jauh dari sini saya pacari, sini saya nikahi. Padahal kalau bicara soal manusia, kita semua setuju soal "memberi pancing lebih baik daripada memberi ikan". Tapi ketika bicara soal perempuan, kok mendadak lupa. Bukan manusia kah perempuan itu?

Tahukah bahwa aku sering patah hati, ketika membicarakan cita, membahas ramalan, dan merancang masa depan seperti manusia beradab, kemudian muncul penafian bahwa kami tak punya suara sama karena perempuan akan menjadi wanita, wani ditata. Sudahlah kolam nasib ini penuh ketidakpastian, kami pun tabu punya pancing sendiri. Menyenggol ego lelaki, katanya.

Lalu, apakah sebenarnya pancing yang sering disebut-sebut ini? Pancing yang baik menurutku adalah ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan kemandirian, yang tentunya tak terbentuk dari diragukan berkala sepanjang masa.

Ilmu pengetahuan sudah dibebaskan aksesnya bagi perempuan, meski selain butuh uang, seringkali dianggap tidak lebih penting dari pendidikan untuk laki-laki. Ketrampilan masih saja berkelamin, tapi setidak-tidaknya masih berjudul ketrampilan. Kemandirian, yang merupakan kunci, adalah yang masih dicengkram kuat patriarki.

Sulit jadi koki meski bisa memasak kalau percaya bahwa diri tabu bekerja, karena kodrat, karena anak, karena kalau beruang nanti ngelunjak (baca: lelaki tak ingin diperlakukan seperti lelaki memperlakukan perempuan). Apapun alasan yang bisa diberikan untuk menjauhkan perempuan dari urusan "pemancingan", macam konspirasi gila.

Selamat Hari Perempuan Internasional. Semoga urusan mancing bisa tuntas di masa depan.

Komentar